“Keagungan Tuhan
begitu melekat
dengan caranya tersenyum
meluluhkan sepasang mata
yang memandang”
Angin hembus lebih kencang malam ini, membuat rambut menari-nari indah seperti pemiliknya yang mengalunkan lagu di tengah - tengah konser, keramaian di alun-alun kota memabukkan setiap jiwa yang datang, seketika itu iblis tertawa, tipu-dayanya berhasil menjerat cucu adam yang menikmati hingar-bingar lampu bak sinaran emas. Tak jauh dari keramaian kota, seorang gadis memandang langit-langit kamarnya dengan tersenyum bahagia, sejenak tergambar wajah pemuda yang baru ia sapa. “ Astagfirullah !! .. kenapa dengan ku?” lamunannya pudar bersamaan kekalahan iblis yang mencoba menggoda. selembar kertas di atas meja belajarnya menjadi sasaran goresan penanya ..aku baru mengenalmu, sungguh seolah wajah yang kau miliki memancarkan sinar yang kurasa tertarik padanya, namun kenyataannya setan memperdayaiku sesaat hingga malaikat tidak menyukai caranya dan aku tersadar dari lamunanku tentangmu karena sayapnya yang berusaha mengusir makhluk jahat itu…
Mentari menampakkan sinarnya, warna jingga dilengkungan cakrawala merupakan anugerah tuhan yang sangat indah, pagi itu gadis cantik keluar dari rumahnya dengan kerudung yang membuat auranya semakin terpancar “ayo Aini, keburu telat nih!!”, tegur temannya, “iya Alya, aku lagi pakek sepatu, nah.. selesaikan!” sambil berdiri dan melangkahkan kaki kanannya (bismillahi tawakaltu allah) do’a Aini dalam hati, diperjalanan yang jauh untuk sampai ke kampus tidak mudah ia lewati, banyak bahaya yang melintang dari polusi udara, pengendara yang ceroboh bahkan debu yang ditebarkan iblis untuk menimbulkan rasa kantuk tak membuat semangatnya pupus, Kali ini tak jauh dari tempat Aini dan teman-temannya duduk, seseorang yang lewat dihadapannya membuat hati Aini terasa nyaman, ya.. pemuda yang sempat membuat Aini melamun malam itu, namun Aini tersadar tujuannya disini untuk fokus akan masa depannya dan jika waktu suatu saat berpihak pada mereka dan tuhan merestuinya, segalanya akan indah pada saatnya. hari itu dijalaninya dengan sikap biasa, ia tak berani berharap lebih pada sesuatu yang belum pasti terjadi.
“Semakin lama, rasa itu
semakin tumbuh, dengan kuasa-Nya
tangan-Nya yang halus, menuntunku
pada Ladang berbau kasturi”
Suara bentangan sayap menandakan Iblis mulai datang mengintai mangsa yang akan dijadikannya kayu bakar, hasutan yang keluar dari lidah apinya tak henti-henti mereka kobarkan “Ada apa ini, kenapa setiap malam dia selalu hadir dalam anganku, apa sebenarnya yang terjadi, kenapa rasa itu semakin kuat ?” gerutunya dalam hati dengan coretan-coretan tinta tak jelas, Aliya yang melihat perilaku sahabatnya yang mulai aneh sejak pekan lalu, membuatnya penasaran “Kamu kenapa Aini?, akhir-akhir ini selalu bengong, ngomel-ngomel sendiri, coret-coret kertas gak jelas, kadang juga suka tersenyum sendiri, apa yang terjadi denganmu ?” Aliya penasaran, “E..e enggak apa-apa kok ya, cuma sebel gak ada inspirasi untuk nulis “ jawabnya terbata-bata, “Ah.. yang bener, terus kalau senyum-senyum sendiri itu kenapa hayooo ?” desak Aliya sambil menyenggol lengan Aini ,”iya, beneran gak ada apa-apa, Aliya kenapa sih kok tanya gitu ?” Aini salah tingkah, “Kamu lagi jatuh cinta ya Ni, hayoo sama siapa ? cerita dong ?” bisik Aliya, “Kamu kepo, sini aku bisikin aku penasaran juga gimana perasaanmu dengan dia ?” Aini balik tanya, “Kok malah aku yang ditanyai, Hmm..” sambil ngeloyor ke kamar mandi, “Aliya, kau mau ngapain ?” Aini penasaran, “Mau ambil wudhu..” jawabnya cuek, “Eh bareng sholatnya ya, kita jamaah, aku yang jadi imam” Aini teriak.
Ketika semua masalah dicurahkan kepada pemberi masalah seakan mudah ketika tubuh ini menghadapinya. Sejuknya angin malam saat itu bagaikan tiupan malaikat dari surga yang menjadi saksi do’a-do’a yang dilantunkan secara ikhlas “Tuhan, rasa itu semakin larut dalam benakku, jadikan rasa ini sebagai jalan menuju keridhoanMu, wahai pembolak-balik hati manusia kutitipkan sekeping hati ini dan jadikan ia suci, sesuci cinta Fatimatus Zahra kepada Ali bin Abu Tholib, .. Kupasrahkan semua padaMu, hanya untukMu kami hidup dan Hanya padaMulah tempat kami kembali, AAmiin..” curahan hati Aini kepada Sang pemilik kehidupan membuatnya tersadar ketika cinta yang ia miliki saat itu jika dititipkan kepadaNya Iblispun tidak berani menyentuhnya.
“Suaranya yang menakutkan,
bagaikan air bah zaman nabi Nuh,
Secepat mungkin aku berlari, menaiki perahu besar
yang membuatku berani menghadapinya,
Tuhan, Kau yang membuatku mampu,
Kau lebih besar dari itu..”
Cobaan atau masalah datang, bukan berarti tuhan tidak sayang pada hambaNya, namun lewat itu semua ada makna tersembunyi yang dapat kita petik sebagai pelajaran hidup, yaitu itu adalah jalan untuk mendewasakan diri dan tuhan menginginkan kita lebih dekat kepadaNya. “Sudah 4 bulan ini, aku tidak dapat bonus bulanan dari tuhan, apa yang terjadi denganku ?”, “Aini, kamu masih belum dapat bonus bulanan, jangan-jangan kamu…?” tanya ayah panik, “kenapa berpikir negatif tentang Aini yah, Aini tidak melakukan apa-apa, kalau ayah tidak percaya besok kita periksa” jawab Aini kesal, Namun ketidak percayaan sang ayah membuat Aini cemas, di Kampuspun dia lebih memilih sendiri untuk menenangkan dirinya, tepat diatas motor milik sahabatnya iapun mulai menenangkan pikirannya dengan mencurahkan isi hatinya dilembaran kertas ..Hari ini yang tidak pernah terjadi akan terjadi dengan sangat menyakitkan, ketika kepercayaan itu mulai hilang dan meninggalkan luka yang menyayat. Ini hanya permainan takdir dan aku harus menyelesaikan tugasku. Ketika mimpi mulai kurajut dengan baik dan manis, ketika harapanku akan mulai kuwujudkan, aku tidak akan membiarkan keadaan memaksaku untuk membakar semua impian itu, Tuhan kasihi aku dengan rahmatMu, jangan kau torehkan masalah yang besar atas takdirku dan kumohon bersamalah denganku selalu, jangan biarkan aku sendiri yang semakin lama terpuruk pada kekhawatiran yang belum ku ketahui kepastiannya. Aku bertekad, aku berniat tidak akan pernah padam kobaran api semangatku, Sungguh kebesaranMu ini yang ku tunggu, maafkan aku telah mengindahkan NamaMu yang Agung, dan saat aku mengharap satu cinta yang suci dariMu, jangan lagi kau tuang dosaku kedalamnya.. lebih lagi yang membuatnya semakin tenang dengan membaca artikel yang positif dari ponsel kecilnya, semua yang ada di dunia diciptakan secara berpasangan bahkan masalahpun lahir dengan jalan keluar, optimis dan mampu melewati semua adalah sikap menuju kedewasaan diri “Iya, besok aku harus periksa, apa yang aku takutkan, Allah selalu denganku” yakinnya.
“Dok, bagaimana hasilnya ?” tanyanya penasaran, “Tidak apa-apa mbak, ini hanya akibat dari kelelahan, dan saya anjurkan agar mbak bisa beristirahat dengan cukup”. “Dan sekali lagi terima kasih tuhan, Kau menepati janjiMu dan mengabulkan do’a hambamu ini” bersyukurnya dalam hati, saat itu kepercayaan Sang ayah kembali lagi dan membuat Aini kembali ceria.
“Angin surga tiada lagi kurasakan
Detak jantung kini mulai berperan
Seolah Penantian ini akan Usai
Pertemuan di Jabal Rahmah akan dimulai”
Keadaan malam itu membuat Aini berpikir keras, apa yang ada di benaknya saat ini ?, apa yang membuat bmbang hingga berlarut-larut ?, siapa gerangan yang telah mencuri jiwanya ?. Tatapan kosong seorang gadis yang sedang ditengah keramaian membuat jubah-jubah hitam itu semakin menebal, bahkan mata hatinya tak dapat melihat kearah cahaya. “Apa aku harus mengatakannya langsung ?, sungguh ini menyiksaku, antara takut kehilangan dan salah mengartikan hubungan ini.. Ah. . tidak, bagaimana aku menjadi egois seperti ini, tapi jika aku tidak melakukannya sekarang, dia tidak akan pernah tau tentang perasaanku dan apa artinya surat-surat yang ia berikan kepadaku setiap hari, jika dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku, ya aku harus mengatakannya sekarang “ sembari bergegas menemui pemuda itu, namun beberapa langkah ia terhenti dan kembali sadar, sikap terburu-burunya yang tidak sabar akan menuai hasil yang tidak baik, “Tidak, jika aku kehilangan dia, tandanya dia bukanlah jodohku. Alangkah lebih baik memfokuskan diriku ke masa depan yang telah aku impikan. Haah.. Aini kamu hampir saja melakukan hal bodoh dalam hidupmu” pikirnya kesal. Siang yang terik dan terkadang sore datang hujan menunjukkan jika alam tidak lagi bersahabat, cuaca berganti tanpa kompromi membawa penyakit bagi tubuh yang rentan methabolismenya “Haa chim!!”, “Kamu kenapa Aliya? Oh , badanmu panas, kamu sakit” Aini resah. “Tidak, aku tidak apa-apa, hanya butuh istirahat sedikit, Aini” jawab Aliya lemah. “Istirahatlah, kan ku buatkan secangkir teh hangat dan ku bawakan obat untuk kau minum” tutur Aini cemas.
Dibagian dunia yang lain tampak pemuda sedang sibuk membaca sepucuk surat berpita orange. ..
Dear Aini:
“Hai Habib, Bagaimana dengan kuliahmu ?, Apa ada kesulitan atau dosen yang mengajarimu angker semua, sehingga waktu luangpun tak ada bagimu ? Oops,, maaf aku hanya bercanda, Kamu tahu ?, ketika pagi hari segerombolan burung keluar dari sangkarnya dan menghiasi langit yang cerah, ia mencari sesuatu untuk mereka bawa pulang, tak pernah terbayangkan olehnya, Kemana mereka harus pergi mencari makan saat itu?, sorepun ada saatnya mereka tak membawa sedikitpun makanan dan yang lebih menarik dari mereka, mereka terbang bersamaan dengan kicauannya yang merdu, seperti tidak ada beban, bukan ?, Tahukah, apa yang tersirat dari hidup si burung, mereka sadar bahwa hidup tak selamanya seperti yang mereka inginkan, roda itu berputar ada saatnya kita diatas dan ada saatnya kita dibawah, tetap nikmati dan syukuri apa yang ada, kamu tidak pernah melihatkan ada burung yang frustasi mencoba melompat dari gedung yang tinggi ?, Hmm jadi untuk kamu tetap semangat untuk meraih apa yang kamu cita-citakan dan aku sebagai sahabatmu akan selalu mendukungmu”...
( Cici Kumala Sari )
TA BELUM SLESAI MALAH NULIS CERPEN "jenius"
BalasHapus